UNTUK PEMANTAPAN AKIDAH …KERAS
DAN PEDAS NAMUN ADA BANYAK KEBENARANNYA….
Introduksi
Kita hanya memahami islam dalam
sudut keilmuan dan pemikiran. Sukar untuk dalam kalangan KEBANYAKAN MUSLIM
WARISAN memaknai apa erti sebenar saya menjadi seorang islam.
Islam mudah diterjemahkan dalam
bahasa namun dalam pengamalan sebenarnya ..teramat sukar menjadi seorang islam
sejati. Menjadi orang islam dalam kad pengenalan sangat menyenangkan walhal
hakikatnya islam hanya tertempel pada sehelai kad yang keras tanpa erti di
sebalik perkataan I ..S…L..A..M..
ISLAM WARISAN DAN ISLAM HIDAYAH MASIH LAGI DI DALAM DUA PARADIGMA YANG SALING
BERTEMBUNG.
SEJUJURNYA..BAGI GOLONGAN
INTELEKTUAL BERDAFTAR ATAU TIDAK BERDAFTAR MAKA SEBETULNYA DISARANKAN ANDA LEBIH
BANYAK MENYELIDIK DAN MENDENGAR CERAMAH DARIPADA USTAZ –USTAZ MUALLAF AMERIKA
DAN EROPAH DI YOUTUBE. MEREKA BENAR-BENAR MENDAPAT NILAI DAN ERTI ISLAM DALAM
RUANG LINGKUP YANG SANGAT MENCABAR DAN PENUH TEKANAN.
JIKA ANDA MASIH MENDENGAR USTAZ-USTAZ DI MALAYSIA ,KAMI FIKIR IA KURANG
SESUAI. KEBANYAKAN USTAZ MALAYSIA LEBIH SESUAI UNTUK MENYAMPAIKAN BAHAN BAGI
GOLONGAN PENCEN DAN PESARA. BUKAN MERENDAHKAN NILAI NAMUN ITU TAHAP KEFAHAMAN
YANG DIKIRA BERPADANAN DENGAN BAHAN YANG DISAMPAIKAN OLEH KEBANYAKAN PARA
USTAZ.
DISEBABKAN KUALITI KEISLAMAN YANG
DINIKMATI OLEH GOLONGAN USTAZ MUALLAF ITU MAKA DAN SEWAJARNYA ANDA LEBIH
MENIKMATI DAN MEMAHAMI ATAU LEBIH MENJIWAI SEBENARNYA APA ITU..I…S…L..A..M…
TERLALU RAMAI DALAM KALANGAN KITA
YANG TERKELIRU DAN TERSASUL APABILA MENYENTUH ISLAM DALAM KONTEKS KENEGARAAN.
MASING-MASING DALAM DILEMA . MENGAPA UMMAT ISLAM SERAMAI HAMPIR 2.0 BILLION INI BERKECAMUK TIDAK TENTU HALA APABILA DINILAI
DARI ‘SUDUT MATERIAL’ IAITU NEGARA, EKONOMI PENDIDIKAN DAN SEBARANG PEMILIKAN
HARTA KEKAYAAN.
PERIHAL MATERIAL BUKAN SEMATA
OBJEK NAMUN IA TURUT MERANGKUMI SEBARANG
ASPEK HIDUP YANG MEMISAH-MISAHKAN JIWA MANUSIA. MEMECAH BELAH FIKIRAN DAN HATI
NURANI.
ISLAM WARISAN MUNGKIN KURANG
MENGERTI SECARA TEPAT MENGENAI PERIHAL ISLAM SEJATI. ISLAM SEBENAR DAN KETULENAN
ISLAM. DISEBABKAN HILANGNYA NILAI MENJIWAI ISLAM ITU MAKA SEBAB ITULAH ISLAM
MEREKA TIDAK DAN SUKAR UNTUK DIHARGAI. MEREKA LEBIH RELA MEMBUANG SERTA
MENGHILANGKAN ISLAM DARIPADA HARTA DAN
KESELESAAN HIDUP. PENTINGKAN DIRI ADALAH SATU AGENDAYANG SANGAT MULIA. HIPOKRIT
SUDAH MENDARAH DAGING.
BERBEDA BAGI ISLAM HIDAYAH INI
MEREKA MENJIWAI DAN MENDALAMINYA SESUNGGUH MUNGKIN. TIDAK ADA MASA MENCARI DAN
MENGAIBKAN SESAMA MEREKA. MEREKA MEMILIKI KUALITI KOMUNITI YANG JAUH LEBIH
TERKEHADAPAN MESKIPUN TANPA ISLAM YANG TERTERA DI KAD PENGENALAN MEREKA.
SEBETULNYA ADA SATU KEHEBATAN
YANG SANGAT HEBAT BAHKAN TERLAMPAU HEBAT UNTUK DIBANDING ISLAM DENGAN
AGAMA-AGAMA MONOTEISME ATAU AGAMA SAMAWI LAINNYA.
ISLAM INI MENAWARKAN UKHUWAH
ISLAMIYYAH YANG SANGAT KUAT. SETIAP INICI DALAM KALANGAN UMMAT ITU AKAN SALING
MENGUATKAN DAN SALING MEMARTABATKAN SESAMA MEREKA. AMPUH DAN TEGUHNYA UKHUWAH
ITU SEHINGGAKAN MASING-MASINGKAN SANGGUP ITSAR ATAU MENGORBANKAN DIRI, RAKAN,
KELUARGA UNTUK KEMULIAAN ISLAM. UNTUK
MEMULIAKAN AGAMA ILAHI. BUKAN FANATIK TETAPI KERANA BERNILAI DAN BERHARGANYA
ISLAM YANG PATUT DAN MESTI DIPERTAHANKAN
KERANA SESUNGGUHNYA ISLAM ITU YANG MEMULIAKAN MANUSIA. DAN KEMULIAAN
TANPA ISLAM ADALAH MUSTAHIL.
MANUSIA TANPA ISLAM HANYA UMPAMA
BINATANG YANG DIBERI PERHIASAN.
BINATANG YANG HANYA PINTAR
BERKATA-KATA..PANDAI MENYANYI DAN MENJERIT…
BINATANG YANG CANTIK DENGAN
PERHIASAN DAN DEKORASI..
BINATANG YANG KELIHATAN BERGAYA
DI DALAM SANGKARNYA YANG MEWAH.
BINATANG SENTIASA BERTARUNG UNTUK
MENENTUKAN SIAPA YANG PALING KUAT.
BINATANG JUGA MENGAJAR KUASA ADA
PADA MAJORITI..
BINATANG JUGA MENGAJAR TIDAK
PERLU KEPADA NASAB DAN KETURUNAN. BOLEH BERTUKAR PASANGAN SESIAPA SAHAJA YANG
DIINGINI..
BINATANG JUGA MENGAJAR
LAKUKAN APA SAHAJA ASALKAN DIRI MEREKA TERSELAMAT..
SELAGI MANUSIA TIDAK
DIPERKENALKAN DENGAN ISLAM ..SELAGI ITULAH MEREKA TIDAK JAUH DENGAN PERIHAL
KEBINATANGAN…
BUKAN MENGEJUTKAN APABILA CHARLES
DARWIN MENGAJAR KETURUNAN MANUSIA BERASAL DARIPADA MONYET.
SUPAYA MEMBENTUK PERSAMAAN
PERWATAKAN DAN KAREKTER KEBINATANGAN DALAM DIRI MANUSIA.
JADI SELANJUTKAN FAHAMI DAN
DALAMI SEMULA ISLAM..
PERHATI DAN TELITI SEMULA SYAHADAH
KITA SEMUA..SELANJUTNYA PERBAIKILAH AMAL –AMAL
MASING..
MOHON MENILAI DENGAN DADA YANG
LAPANG BAGI ARTIKEL SAHABAT DI INDONESIA..
MINTA IJIN DARI SAHABAT
INDONESIA..ARTIKEL ERAMUSLIM….
Ini Bukan Pertarungan Politik, Bukan
juga Ekonomi…Tapi ini Pertarungan Aqidah
Puncak pertarungan
antara orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir adalahpertarungan aqidah,selain itu sama sekali tidak ada. Sedang
musuh-musuh itu tidak akan mendendam kepada orang-orang mukmin, melainkan
karena iman semata. Mereka pun tidak murka, melainkan karena masalah
aqidah.
Ini bukan pertarungan
politik, bukan pertarungan ekonomi, bukan pula pertarungan golongan. Jika itu
yang menjadi pangkalnya, yang mudah sekali di selesaikan, mudah pula di carikan
jalan keluarnya. Tetapi puncaknya ialah aqidah, imam kufur, imam iman, imam
jahiliyah dan imam Islam.
Pembesar-pembesar
musyrik dulu pernah menawarkan harta, pangkat dan kemewahan hidup kepada nabi
Muhammad Saw. Dengan satu imbalan saja, yaitu: kiranya nabi Muhammad mau
berhenti dari perjuangan aqidah dan supaya ia lunak dalam persoalan ini.
Seandainya ketika itu nabi Muhammad saw. Mengiyakan apa yang mereka kehendaki
itu, niscaya tidak akan ada lagi peperangan mereka dengan nabi Muhammad Saw.
Perjuangan tersebut
adalah perjuangan aqidah dan persoalan aqidah dan masalah aqidah. Inilah yang
harus diyakini benar oleh setiap orang mukmin ketika mereka menghadapi musuh
mereka itu. Pihak musuh tidak akan memusuhi orang-orang mukmin melainkan karena
persoalan aqidah ini: ”MELAINKAN KARENA
ORANG-ORANG MUKMIN ITU BERIMAN KEPADA ALLAH DZAT YANG MAHA GAGAH, MAHA TERPUJI”,
SERTA MENGIKHLASKAN KETAATAN DAN TUNDUKNYA ITU SEMATA-MATA KEPADA-NYA.
Sedang musuh-musuh
kaum muslimin itu dalam perjuangannya adalah mengalihkan dan berusaha untuk
menaikkan bendera selain bendera aqidah. Mereka akan menaikkan bendera ekonomi,
bendera politik dan bendera golongan, untuk mengelabui orang mukmin akan
hakekat perjuangannya, lalu aqidahnya yang bernyala-nyala itu akan dipadamkan.
Oleh karena itu salah
satu kewajiban orang-orang mukmin ialah: hendaknya mereka tidak terpedaya, dan
kiranya mereka juga mengetahui, bahwa ini adalah pengaburan untuk tujuan
tertentu. Orang yang mengubah bendera perjuangan itu tidak lain, hanya karena
hendak menipu kaum muslimin supaya MEREKA ITU TIDAK LAGI MENGGUNAKAN SENJATA
KEMENANGAN YANG HAKIKI ITU, KEMENANGAN DALAM BENTUKNYA YANG PUNCAK, BAIK
KEMENANGAN ITU DATANG DALAM BENTUK KEBEBASAN ROHANI SEPERTI YANG DI ALAMI
ASH-HABUL UKHDUD, ATAU KEMENANGAN DALAM BENTUK PEMELIHARAAN YANG TIMBUL DARI
KEBEBASAN ROHANI ITU – SEBAGAIMANA YANG DI ALAMI OLEH GENERASI PERTAMA DARI
KALANGAN SAHABAT ISLAM.
Kami juga mencatat
beberapa contoh dari pengaburan bendera itu dalam ulah Sabilisme Internasional
pada hari ini, yang akan menipu kita dari hakekat perjuangan dan akan
mengulangi sejarah. Lalu mereka menuduh kita, bahwa perang salib itu adalah
berselubung penjajahan. Tidak….! sekali lagi tidak ! Penjajahan yang kemudian
datang itulah sebenarnya yang berselubung Salibisme yang tidak bisa di
tutup-tutupi sebagaimana yang telah terjadi pada abad pertengahan. Sedang
golongan mereka yang pernah di patahkan di atas batu aqidah dengan pimpinan
kaum muslimin yang terdiri dari berbagai unsur , MISALNYA: SHALAHUDIN AL
AYOUBI AL KURDI, TURAN SYAH ALMAMLUKI, – UNSUR-UNSUR YANG MEREKA LUPA AKAN
KEBANGSAANNYA, YANG DIINGAT HANYA AQIDAHNYA SAJA , MAKA MEREKA ITU AKHIRNYA
MEMPEROLEH KEMENANGAN DI BAWAH BENDERA AQIDAH,
BENAR KATA ALLAH:
“MEREKA TIDAK MENDENDAM ORANG-ORANG
MUKMIN, MELAINKAN KARENA ORANG-ORANG MUKMIN ITU BERIMAN KEPADA ALLAH DZAT YANG
MAHA GAGAH, MAHA TERPUJI”.
Maha benarlah Allah
Yang Maha Tinggi dan Maha Besar, dan dusta musuh-musuh yang penuh dengan
penipuan dan penyelewengan! – Sayyid Qutb -
Dimana Allah dan Bagaimana Memposisikan Allah?
alam Surat An Naas, terdapat ayat
yang menyebutkan:
“Raja manusia.”(Q.S. An
Nas:2)
Allah adalah raja. Raja Manusia.
Penguasa bagi para manusia juga alam semesta. Lantas, bagaimana seorang raja
itu? Bagaimana kedudukannya?
Maka akal dan pengetahuan yang
kita miliki, kita bisa menyimpulkan bahwa raja adalah yang memimpin dan
menguasai suatu wilayah, memiliki bawahan yang mengikuti dan mentaatinya,
memiliki hukum yang harus ditaati, dan memiliki kekayaan untuk diberikan pada
bawahannya yang taat serta punya sangsi untuk bawahannya yang melawannya. Allah
adalah raja manusia, Pengatur menusia dengan undang-undang-Nya (syari’at-Nya).
Di masa Rasulullah dan masa-masa
kejayaan Islam, umat Islam dipimpin oleh seorang khalifah. Allah “tidaklah
berkuasa secara langsung,” tetapi Allah memiliki wakil di bumi, yaitu sang
khalifah. Kata khalifah sendiri secara bahasa adalah “pengganti atau wakil.”
Khalifah memimpin dan merajai manusia di dunia, tetapi ia tunduk pada
Rajanya Raja, Sang Malikul Mulki. Khalifah adalah raja yang mengikarkan diri
sebagai hamba Allah, bawahan Allah, dan taat pada hukum Allah. Ia adalah wakil
Allah untuk melaksanakan hukum Allah di muka bumi, mengatur kehidupan umat
manusia berdasarkan hukum dan perundang-undangan (syari’at) dari Allah.
Setelah kita tahu definisinya,
marilah kita introspeksi tentang kedudukan Allah di masa sekarang ini, dan
marilah kita introspeksi diri kita sendiri. Sudahkah kita memposisikan Allah
sebagai raja?
Ternyata fakta bicara lain.
Tenyata di masa sekarang ini, raja itu bukanlah Allah. Raja-raja itu bukanlah
wakil Allah. Kondisi kita sekarang ini 100% berbalik dari yang semestinya.
Sekarang ini tak ada wilayah yang menerapkan hukum Allah. Setiap jengkal tanah
yang menyuarakan berdirinya hukum Allah, maka seluruh manusia entah itu yang
katanya muslim atau bukan, akan berbondong-bondong untuk menghancurkan dan
membumi hanguskannya. Setiap jiwa yang menyeru pada syari’at dan hukum Allah
akan di cap sebagai teroris yang harus dikejar-kejar untuk ditangkap dan
dipenjara bahkan harus dihukum mati.
Ketika kondisi sudah seperti ini,
rasanya tak ada alasan lagi bagi Allah untuk menunda bencana atau bahkan kiamat
datang. Kecuali karena masih adanya jiwa-jiwa yang mau menyeru dan kembali
kepada hukum Allah. Itulah yang menahan murka Allah untuk tidak menimpakan
bencana bagi manusia dan bumi ini secara keseluruhan.
Sedangkan kondisi kejiwaan kaum
muslimin sendiri-ketika situasi sudah tidak mendukung tegaknya hukum
Allah-adalah telah menjadi kaum yang lemah, yang malu mengangkat Allah menjadi
rajanya, yang lebih takut pada raja-raja dan penguasa dunia yang menentang
Allah (baca: Thaghut), dan lebih senang ikut dalam barisan mereka, demi mencari
keuntungan dan kenikmatan dunia yang sementara dan sedikit. Kita takut
menyuarakan hukum Allah pada tampuk-tampuk kepemimpinan yang sudah kita pegang,
karena takut kita akan kehilangan kedudukan itu. Kita tidak bisa mendudukkan
Allah sebagaimana yang seharusnya. Penerapan iman kita kepada Allah 100% kacau.
Nastghfirullahal adhim…
Lalu apa yang harus kita
perbuat……..
Solusi yang paling ampuh untuk
mengembalikan kekuatan umat muslim di dunia ini adalah dengan mengembalikan
mereka kepada al ilmu sebagaimana generasi-generasi pendahulu mereka, yaitu
ilmu tentang dua warisan Nabi Muhammad yang beliau tinggalkan sebagai pegangan
umatnya sepeninggalnya. Tidak lain dan tidak bukan ia adalah Al Qur’an dan Al
Hadits. Dengan mempelajari dan mengilmui kedua sumber yang suci tesebut, maka
kembalilah kita pada kekuatan iman, ketaqwaan dan kehormatan yang akan membawa
kita kepada kejayaan.
Bersambung…
Nazla Al Qorie
Setelah kita yakin dengan
seyakin-yakinnya akan keberadaan dan kedudukan Allah, tidak sulit bagi kita
untuk meyakini dan mempercayai firman-Nya. Maka tidak ada keraguan sedikitpun
bagi kita untuk mengakui bahwa Muhammad SAW adalah seorang hamba dan utusanNya
yang terakhir yang diutus Allah untuk memberikan petunjukNya kepada umat
manusia di seluruh dunia hingga hari kiamat sebagaimana yang disebutkan dalam
Al Qur’an. Tetapi yang menjadi masalah besar adalah tidak adanya
pengejawantahan dari keyakinan itu, praktek serta pelaksanaannya. Sudahkah kita
memposisikan Rasulullah sebagaimana keyakinan kita itu? Jangan-jangan keyakinan
itu hanya di hati dan di lisan saja, sedangkan praktek dan perwujudan dari
keimanan itu sama sekali tidak ada.
Bagaimana memposisikan
Rasulullah?
Kita sudah meyakini dengan benar
tentang kerasulan Muhammad tanpa keraguan sedikitpun. Bahwa Muhammad lah sang
nabi terakhir, pembawa risalah, syari’at, tata cara ibadah, tata cara berhari
raya, menyambut kelahiran, menyikapai kematian, tata cara memperlakukan orang
yang sudah meninggal, sampai tata cara bersyukur semua sudah beliau sampaikan
semua. Mulai dari tata cara masuk kamar mandi sampai tata cara memimpin sebuah
negara, semua telah sempurna dan disempurnakan oleh Allah sebagaimana dalam Al
Qur’an Surat Al Maidah Ayat 3:
“Pada hari ini Telah
Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(Q.S. Al Maidah:3)
Sejak hari turunnya ayat di atas,
maka Allah menyatakan agama ini telah sempurna. Tata cara ibadah dalam agama
ini telah sempurna. Tidak perlu ada penambahan dan pengurangan. Setiap
penambahan dan pengurangan (baca: bid’ah, baik yang hasanah atau yang dhalalah)
terhadap diin ini adalah sebuah tindakan yang merusak kesempurnaannya, sebuah
pengingkaran terhadap firman
Allah di atas, juga merupakan sebuah kedustaan atas kerasulan Muhammad, pembawa
risalah yang suci. Merusak kemurnian dan kesucian ajarannya.
Kesimpulan diatas tidaklah sulit
kita fahami. Yang sulit adalah membuat hati, akal dan pikiran kita terbuka. Mau menerima
kebenaran.
Tetapi marilah kita melihat
kondisi kita dan fakta umat Islam sekarang ini. Maka kita tidak bisa
mengingkari, bahwa kebid’ahan telah merajalela menutupi sunnah nabi, sampai
sunnah itu tidak telihat sama sekali saking semaraknya bid’ah dan penyelewengan
dalam agama ini. Hal ini sangatlah wajar karena jauhnya jarak yang membentang
antara masa ini dan masa Rasulullah, yaitu lebih dari 1400 tahun. Yang benar
dikatakan bid’ah/sesat dan yang sesat dianggap benar. Telalu banyak
amalan-amalan kita yang kita sendiri tidak tahu kesahihannya, yang tidak ada perintahnya
dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Lebih
baik kita diam dari pada beribadah tapi salah (ingat QS. Al Isra’:36 diatas).
Kita membuat-buat variasi dalam
semua tata cara ibadah kita, mulai wudlu, shalat, puasa dan haji, cara kita
berhari raya, cara kita menyambut kelahiran, tata cara menyikapi orang yang
sudah mati, serta mengadakan peringatan-peringatan tahunan. Semua sudah
melenceng dari sunnah Nabi. Ajaran dan Sunnah Rasul tenggelam dalam gegap
gempitanya acara-acara tersebut, semua serasa semarak dan akhirnya kita terbuai
dengan hal itu dan kita sibuk untuk menghidup-hidupkan bid’ah sampai energi
kita habis dan kita tidak sempat lagi menghidupkan sunnah Rasul.
Karena perbuatan kita itu, maka
Allah memakaikan pakaian kehinaan dan kelemahan kepada umat ini, dan ini sudah
menjadi hukum ketentuan Allah.
Nah, sekarang sudah kita ketahui
bahwa faktanya iman kita kepada karasulan Muhammad SAW 100% masih kacau. Hal
ini disebabkan jauhnya umat ini dari ilmu dan budaya mencari ilmu. Mereka lebih
suka ikut-ikutan seperti sekawanan bebek. Orang ramai disana, semua ikut
kesana. Lebih suka mencontoh dari pada belajar dan membaca sumber aslinya.
Taukah kita, bahwa tiap diri kita
akan betanggung jawab terhadap amal-amal kita masing-masing. Kalau kita beramal
karena mengikuti imam/ulama, bukan mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya,
maka imam/ulama yang kita ikuti itu tidaklah akan bertanggung jawab sedikitpun
tehadap amal-amal kita. Mereka akan berlepas diri kalau perbuatan kita itu
adalah sebuah kesalahan karena tidak mengikuti/ittiba’ pada tuntunan Rasul SAW,
sebagaimana tertulis dalam ayat berikut:
“ (Yaitu) ketika orang-orang yang
diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka
melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke
dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas
diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya
menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api
neraka.(Q.S Al Baqarah:166-167)
Dan juga dalam ayat:
“Sebahagian dan mereka menghadap
kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka
berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang
kepada kami dan kanan)*. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: kamulah yang
tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah
kaum yang melampaui batas. Maka Pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas
kita; Sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan
kamu, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat.Maka Sesungguhnya mereka
pada hari itu bersama-sama dalam azab. (Q.S.Ash Shaffat:27-33)
[*] Maksudnya: para
pemimpin itu mendatangi pengikut-pengikutnya dengan membawa bujukan yang
mengikat hati.
Manusia yang di jamin bersih dari
kesalahan (maktsum) dan satu-satunya panutan yang wajib kita contoh dalam
berislam hanyalah Rasulullah Muhammad SAW, selebihnya bisa saja salah dan
menyelewengkankan kita dari tuntunan Allah dan Rasul-Nya
Jika kita berilmu, mempelajari Al
Qur’an dan As Sunnah yang suci, maka Allah akan mengangkat derajat kita, diri
kita jadi terhormat, bukan hanya karena pengakuan orang lain terhadap keilmuan
kita, tetapi karena sikap kita yang hati-hati, yang penuh pertimbangan sesuai
hukum-hukum agung dari petunjuk ilahi sehingga kita menjadi orang yang bijak
dan berwibawa. Jika hal ini dimiliki oleh sebuah kaum maka kaum itu akan
berjaya, dan dilimpahi oleh rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
Di masa modern ini, kita sudah
tidak pantas lagi berdebat tentang madzhab dan aliran. Karena sekarang ini
semua sumber ilmu (Alquran dan Al Hadits) telah terkumpulkan dan terkodifikasi
dengan baik, dapat dengan mudah kita akses dan kita peroleh tanpa harus pergi
dari satu perpustakaan ke perpustakaann lain. Semua ilmu itu cukup muat dalam
sebuah perangkat elektronik yang bernama komputer. Beda dengan zaman dulu di
mana orang yang mau mencari ilmu terutama ilmu hadits, harus dengan jalan kaki,
merantau dari suatu tempat ahli hadist dan ahli ilmu ketempat lain seperti yang
dilakukan para imam madzhab dulu. Maka ilmu dan pengalamam tiap-tiap Imam
tidaklah sama. Oleh sebab itu terkadang pemahaman Imam Madzhab satu agak
berbeda dengan Imam Madzhab lain. Tetapi sekarang,… semua ilmu itu
(Tafsir-tafsir Alqur’an dan Kitab-kitab Al Hadits) sudah bisa dikumpulkan,
disarikan, disimpulkan dan ditemukan semua petunjuk suci itu apa adanya
sebagai mana awal mulanya. Walaupun ada perbedaan, tetapi itu sangatlah kecil
dan tidak patut dipemasalahkan. Dan kalau hati kita bersih dan ikhlas mencari
kebenaran, pasti Allah akan memberi petunjuk-Nya dan umat islam bisa
bejaya kembali. Karena panutan kita adalah bersumber dari jiwa yang satu, jiwa
Rasulullah Muhammad SAW.
Tetapi kondisi pemikiran kita
masih jumud dan kaku. Pemikiran kita belum terbuka. Belum berbudaya Ilmiah. Dan
masih suka mencontoh/ mengikuti figur tertentu.Walaupun di lembaga-lembaga
pendidikan dan pondok-pondok pesantren kita mempelajari dan membaca Al Qur’an
dan Al Hadits, tapi kedua sumber itu hanya sekedar dibaca dan diartikan.
Sedangkan praktiknya tidak ada, kita masih suka membebek, mengikuti tokoh,
kiai, guru, dan da’i yang menyuarakan dan megajarkannya. Bukan mengikuti
hadits dan ayat yang kita baca itu. Bukan mengikuti Allah dan rasulNya. Kita
lebih suka mengikuti dari pada mencari ilmu itu sendiri. Padahal belum tentu
yang kita ikuti itu benar dihadapan Allah SWT.
Nah, sekarang apa yang harus kita
lakukan? Kita mau berjaya atau kita masih suka Islam dan kaum muslim
dihina-hina?
Ah, kita tak kan peduli lagi
Islam dihina atau umat muslim dianiaya, yang penting kita hidup aman dan
berkecukupan. Kita tak peduli lagi dengan agama Allah. Kita tak butuh lagi
meninggikan kalimat Allah. Kita sudah cukup sibuk dengan
aktifitas-aktifitas dunia kita. Toh kita sudah hidup enak, berkecukupan
kehidupan sehari-harinya, dan kita bisa hidup dengan aman dan nyaman dari hari
ke hari.
Kalau kita tak peduli lagi dengan
kesucian agama ini, dan tingginya kalimah Allah di muka bumi, berarti kita
tidak sayang Allah. Tidak mencintai Allah. Tidak menghormati dan mencintai
Allah dan Rasul-Nya sebagaimana mestinya. Kalau kita tidak sayang Allah, lantas
apakah kita bisa masuk surga? Padahal kita masuk surga bukanlah karena amalan
kita, karena amalan kita masih jauh dan jauh dari sempurna. Belum cukup untuk
membeli surga. Kita masuk surga hanya karena sayangnya Allah pada kita, karena
sebuah amalan yang menjadi sebab Allah sayang pada kita. Kalau kita tidak
sayang Dia, bagaimana Dia bisa sayang pada kita?
KITA SANTAI DAN TIDAK MARAH
MELIHAT AGAMA ALLAH DIINJAK-INJAK, UMATNYA DIBANTAI, MUSLIMAHNYA DINODAI.
KEJANTANAN KITA SUDAH TEKEBIRI, JIWA KEPAHLAWANAN KITA TELAH BERGANTI MENJADI
JIWA YANG PENGECUT, PECUNDANG DAN PENAKUT.
LALU TAK ADAKAH JIWA-JIWA
MUSLIM YANG MASIH MEMILIKI HARGA DIRI/IZZAH YANG MAU MENGANGKAT HARGA
DIRI/IZZAH UMAT MUSLIMIN DARI KEHINAAN INI? YANG MAU BERUSAHA SEKUAT TENAGA,
BERDA’WAH DAN MENGAJAK UMAT KEPADA KEBANGKITAN.
TIDAK LAIN DAN TIDAK BUKAN
YAITU DENGAN CARA MENCERAHKAN UMAT, MENDIDIK UMAT DENGAN DUA ILMU KUNCI
WARISAN SANG RASUL, YAITU AL QUR’AN DAN AS SUNNAH.
Bukan memanfaatkan umat,
memancing di air keruh, mengeruk kekayaan ummat untuk kemakmuran diri dan
kelompoknya, hanya mengajak umat untuk mendukung ide dan partainya, tanpa
mencerdaskan umat Islam. Tanpa mengentaskan umat dari keterbelakangan ilmu Al
Qur’an dan As Sunnah. Tanpa berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membawa
mereka kepada ketercerahan dan kejayaan.
Ini adalah fakta yang banyak
tejadi dalam tubuh umat muslim yang berkelompok-kelompok dan berpecah-pecah
ini. Mereka saling memanfaatkan satu sama lain. Tak ada yang memikirkan nasib
keilmuan umat. Tak ada yang mencerdaskan dan mencerahkan umat dengan ilmu Al
Qur’an dan As Sunnah. Bukankah Rasul memulai dengan mencerdaskan dan
mengajarkan umat dengan ilmu Diin Islam telebih dahulu sebelum membawa umat ini
mencapai masa jayanya? Karena kejayaan takkan mungkin bisa diraih tanpa
ketercerahan. Umat Islam dahulu telah membuktikan kejayaan paling gemilang
dikalangan umat manusia dimuka bumi. Dan kondisi kita sekarang ini sangatlah
mirip dengan kondisi umat yang jahiliah, dimana dari kita sangatlah sedikit
yang memahami hukum-hukum Al Qur’an dan As Sunnah. Terlau banyak penyelewengan
ajaran Islam dimana-mana. Terlalu banyak orang yang mengaku ahli agama, ustadz,
kiai atau bahkan ulama, tetapi amalan mereka adalah amalan bid’ah yang tidak
diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, atau bahkan amalan syirik, berteman dengan
jin. Mereka adalah para da’i yang megajak umat kepada pintu-pintu neraka
jahannam, sebagai mana yang disebutkan Rasul melalui Sahabat Hudzaifah bin
Yaman bahwa diakhir zaman nanti banyak da’i-da’i yang menyeru kepada pintu
neraka jahannam. Na’udzubillah!
Semua kelompok-kelompok Islam
itu hendaknya bersatu dalam sebuah visi dan misi yaitu membawa umat ini pada
kejayaan dengan mendidik umat akan ilmu-ilmu islam yang suci, memahamkan mereka
pada dua sumber petunjuk hidup, Al qur’an dan Al hadits. Warisan Raulullah
Muhammad SAW. (Bersambung…)
Nazla El Qorie
BETULKAN
SEMULA SYAHADAH KITA SEMUA…..
Debbi Rogers : Ketika Saya Bersyahadat,
Serasa Lepas Beban Berat dari Pundak Saya
Perempuan berusia 34
tahun asal Inggris memilih menjadi mualaf dan berhasil mengislamkan keluarga
dan 30 temannya. Aisyah Bhutta namanya yang dulu bernama Debbie Rogers.
Kini hidup tenteram dan
bahagia setelah memeluk Islam. Di apartemennya yang terletak di Cowcaddens,
Glasgow, ia melewati hari-hari dengan amalan Islam. Saat ini kesibukannya
adalah menjadi ustadzah yang rajin menyiarkan agama Islam ke berbagai
tempat. Berkat dakwahnya, Bhutta dapat mengislamkan orangtua, kerabat dan
30 temannya.
Dahulu Bhutta adalah
seorang gadis Kristen taat. Ia memutuskan masuk Islam lalu menikah dengan pria
Muslim. Awal mula dia mengenal Islam adalah dari seorang pria keturunan
Pakistan, Muhammad Bhutta namanya. Pria yang mengenalkan Islam padanya dan
dikemudian hari menjadi suaminya. Tapi jangan dikira ia masuk Islam gara-gara
jatuh cinta dengan Muhammad.
“Waktu itu saya masih
kecil. Baru berumur 10 tahun. Kebetulan keluarga kami punya toko dan Muhammad
adalah salah satu pelanggan tetapnya. Saya sering mengintip Muhammad kala
shalat di belakang toko kami.”
“Dari wajahnya saya
melihat pancaran kedamaian. Tampaknya dia sangat ikhlas dan menikmati
shalatnya. Kala saya tanya, dia bilang dia orangIslam. Apa itu Islam?” tanya
Aisyah kecil heran.
Berselang beberapa lama,
dengan bantuan Muhammad, Aisyah cilik mulai mendalami Islam lebih jauh. Sekitar
lima tahunan ia pelajari kitab suci tersebut dan menariknya dia telah mampu
membaca seluruh isi Al-Quran dengan bahasa Arab.
”Semua saya baca.
Sungguh sangat menarik sekali. Serasa menancap di hati,” kenangnya.
Alhasil, di usianya yang
ke-16 Debbie Rogers pun mengucap dua kalimah syahadat.
”Ketika saya mengucapkan
kalimah itu, serasa seperti baru melepaskan beban berat yang lepas dari pundak
saya. Luar biasa. Saya merasa seperti seorang bayi yang baru dilahirkan,”
ujarnya. Ia lantas mengganti namanya, Debbie Rogers menjadi Aisyah.
-DeckIslam-
TEMUI
ISLAM KERANA UKHUWAH ISLAMIAH..PERSAUDARAAN SEJATI….
MUTIARA
TERPENDAM YANG TELAH HILANG…
UKHUWAH
ISLAMIAH…..
Pengubat
‘KESEPIAN’ dan ‘KESEORANGAN’ oleh banyak orang. Namun mereka tidak
menyedarinya. Pengubat ‘KEKOSONGAN’ dalam jiwa.
Menemukan Islam ribuan kilometer
jauhnya dari asal rumahnya, seorang Muslim Jepang akhirnya mengabdikan
hidupnya untuk menyebarkan ajaran Islam yang benar dan menyajikan citra Islam
yang sebenarnya kepada sesama warga Jepang.
“Saya pikir Jepang mewarisi dan
terpengaruh pandangan Eropa yang agak bias informasinya tentang Islam, dan
opini tersebut telah memperburuk kecenderungan pemahaman Islam di sini,” kata
Shimoyama Shigeru, seorang Muslim Jepang yang bekerja di Masjid Jami dan
Turkish Culture Center.
“Misalnya, banyak orang di Jepang
menjadi akrab dengan ungkapan Islam itu adalah ” Qur’an atau pedang.”
“Terutama setelah 9/11, dampak
liputan media sangat mempengaruhi persepsi Islam tampak sebagai agama yang
mengintimidasi dan” menakutkan banyak orang.”
Shigeru pertama kali tahu tentang
Islam pada saat perjalanannya ke sungai Nil di Sudan sebagai mahasiswa .
Di sana, ia bertemu dengan orang
yang sangat berbeda, yang memberikan keramahan meskipun mereka tidak
mengerti apa yang dia katakan.
“Saya bertemu orang-orang Afrika
yang Muslim, dan keramahan mereka membuat suatu kesan yang mendalam bagi saya,”
katanya.
“Saya terkejut mengetahui
kemudian ternyata kebaikan mereka itu berasal dari ajaran Islam yang mereka
anut.”
Kembali ke Jepang, tidak berhenti
begitu saja keingintahuan tentang Islam, Shigeru kemudian bertemu seorang
mahasiswa asal Irak di Universitas Tokyo yang memberinya penjelasan dan
motivasi yang ia butuhkan hingga ia meyakinkan dirinya untuk beralih ke
Islam.
“KEBAIKAN-NYA DAN UKHUWAH
PERSAUDARAAN TERIKAT DENGAN IMANNYA SEBAGAI SEORANG MUSLIM,” KENANG SHIGERU.
“Pengalaman itu adalah titik awal
perubahan diri hingga menjadi saya sekarang. Sejujurnya, saya tidak pernah
punya kepercayaan adanya Tuhan sampai saya menjadi seorang Muslim, “katanya.
“Tapi setelah saya bergabung
dengan komunitas Muslim dan mulai beribadah bersama umat Islam lainnya dari
semua ras, berdampingan sebagai saudara seiman, saya menyadari betapa indahnya
itu.”
Shigeru, yang juga berpartisipasi
dalam pendirian Islamic Center of Japan, mengatakan bahwa Islam menempatkan
khusus pada perilaku (akhlak) yang benar dan amal saleh.
“ALASAN KAMI BERIBADAH KARENA
PENSIKAPAN YANG BENAR DALAM AGAMA INI, DAN SEMUA ORANG BERIMAN ADALAH
SAMA DI HADAPAN ALLAH,” KATANYA.
“ADA JUGA KEYAKINAN
DALAM KEADILAN, SEMANGAT DAN TUNTUTAN ISLAM MEMBUAT ANDA HARUS SELALU
MEMIKIRKAN KEBUTUHAN ORANG LAIN TERLEBIH DAHULU.
“KEYAKINAN INI MEMBEBASKAN
ANDA DARI CARA BERPIKIR EGOIS. IDE-IDE ISLAM TELAH MENJADI TERUKIR DALAM HATI
SAYA. ”
Shigeru juga menerbitkan berbagai
karya yang menjelaskan Islam kepada warga Jepang, Shigeru berharap
ia dapat menyebarkan ajaran Islam yang benar, dan jauh dari media barat lainnya
yang sangat bias informasikan tentang Islam.
“Saya ingin melakukan apapun
untuk menjernihkan beberapa kesalahpahaman orang Jepang sekitar Islam dan
menyampaikan pemahaman yang benar tentang agama Islam kepada masyarakat
sebanyak mungkin.”
Islam mulai di Jepang pada tahun
1920 melalui imigrasi beberapa ratus Muslim Turki dari Rusia setelah revolusi
Rusia.
Pada tahun 1930, jumlah Muslim di
Jepang mencapai sekitar 1000 dari asal bangsa yang berbeda.
Gelombang lain migran yang
meningkatkan populasi Muslim mencapai puncaknya pada tahun 1980-an, bersama
dengan pekerja migran dari Pakistan dan Bangladesh.
Jepang sekarang terdapat
komunitas Muslim sekitar 120.000 orang , di antara 127 juta penduduk di negeri
kesepuluh terpadat di dunia. (OI.Net/Dz)
MOHON
DIAMBIL IKTIBAR DARIPADANYA…
YANG
BENAR HANYA ALLAH..
YANG
KHILAF DARIPADA PENULIS..
SEKIAN
JAZAKALAH….